CERPEN

SECERCAH KASIH SAYANG MENYADARKANKU

Oleh : Winda Anggraeni

Dinginya suhu di Kabupaten Lebong membuatku enggan untuk bangun dari tidurku setiap pagi. Terdengar dari luar kakak sepupuhku memanggil dan bertanya! apakah kau tak sekolah hari ini Winda? Sekarang sudah jam 7 lewat, nanti kamu telat lagi. Iya……. sebentar,aku sedang merapikan tempat tidurku jawabku. Aku tinggal bersama bibikku dan anaknya. Aku bersekolah di SMP Negeri 1 Lebong Utara, Ayahku bernama Bahrul sudah meninggal sejak aku duduk di kelas 3 SD. dan Ibuku bernama Yunengsi tinggal di Jakarta bersama kakak tiriku. Aku dititipkn oleh Ibuku dirumah bibik Nila. Sudah satu setengah tahun lamanya aku tinggal disana, Ibuku kadang-kadang saja memberi kabar. Pagi itu aku lesu seperti tak bersemangat untuk hidup. Aku memikirkan Ibuku yang ada di Jakarta. Tiba-tiba kak Santi menyapaku, Kenapa kau lesu dan tak bersemangat seperti itu Winda? “Gimana aku tak lesu kalau setiap hari uang jajanku hanya Rp.2000”, jawabku spontan. Tidak cukup untuk membeli nasi bungkus dan air putih, kataku dengan lesu. Terus kamu mau ditambah uang jajan? Ibu mu disana tidak pernah lagi mengirim uang untukmu, jadi ambillah Rp. 2000 ini. Aku hanya diam saja dan tak berkutik setelah kakak sepupuhku bicara begitu. Disekolah aku termasuk anak yang terbilang pendiam, tak pernah keluar kelas kalau tak ada masalah. Kadang-kadang, teman-temanku mengajakku jajan dikantin, tapi aku tak mau kerena uang jajanku tak cukup untuk membeli makanan di kantin. Dulu semasa aku tinggal bersama Ibuku, uang jajanku lebih dari Rp. 2000. Aku juga sering berfoya-foya, tapi sekarang cari uang Rp.500 saja sangat susah apalagi Rp.2000 keluhku. Suatu siang, bel tanda pulang sekolah berbunyi. Aku dan teman-teman berhamburan keluar. Aku berjalan sendiri melewati jalan yang sempit. Aku memilih jalan yang sempit itu karena dekat dari rumahku. Jalan itu sempit dan becek dan kalau hujan jalan itu menjadi berlumpur dan membuat  sepatuku kotor penuh dengan tanah liat. Kadang teman-temanku memarahi aku karena membawa kotoran dalam kelas. Tapi itu sudah menjadi kebiasaanku. Sesampainya dirumah kakak sepupuhku memberi khabar bahwa Ibu akan pulang. jadi kau bersihkan kamarmu katanya padaku. Aku senang sekali mendengarnya. Pasti uang jajanku akan naik lebih dari Rp. 2000, kataku dalam hati. Malam itu aku tak bisa tidur menanti kedatangan Ibuku pulang dari Jakarta. Keesokkan paginya aku malas berangkat sekolah, karena ingin cepat-cepat bertemu Ibuku. “Kenapa kau tak sekolah hari ini tanya bibikku” Tanya bibikku. “Aku ingin menunggu emak bik”, Jawabku. Emak Mu Jam 2 (dua) siang nanti baru datang jadi kau sekolah dulu. Oh . . .ya? Akhirnya akupun berangkat ke sekolah, aku disekolah begitu tak sabar ingin pulang cepat,agar cepat ketemu emak. Bel berbunyi tanda pulang, aku berlari secepat kilat biar cepat sampai kerumah. Tiba di rumah aku cepat-cepat ganti baju. Aku tak selera makan lagi. Pengen rasanya cepat-cepat mau ketemu emak. Aku menunggu emak diruang tamu sambil tiduran di sofa. Akhirnya aku ketiduran di ruang tamu. Aku dibangunkan oleh suara orang yang begitu keras, dan tanpa aku sadar emak sudah di kamarku. Aku begitu kaget ketika melihat emak terbaring ditempat  tidur. Emak mu sakit, dia tidak bisa berjalan lagi. Jadi kamu harus merawat dia, kata bibikku. Sejak saat itu aku sendiri yang merawat emakku. Sudah 1 bulan lamanya aku merawat emakku, tapi emak tetap saja belum sembuh juga dari sakitnya, malahan semakin parah. Sampai akhirnya bibikku dari jauh ikut juga merawat emak. Pagi itu emak menyapaku, Nak apakah hari ini kau sekolah? Iya mak, karena hari ini ada ulangan bahasa Indonesia, jawabku lagi. Pagi itu kondisi emak semakin memburuk, tapi aku harus tetap sekolah. Tepat pukul 12:00, guru piket memanggilku. Kamu Winda kan? kamu ditunggu oleh kakak lelakimu. Kakak mu mengajak mu pulang, katanya ibumu sakit. Setelah mendengar perkataan guruku, aku langsung pulang, aku berlari-lari melewati jalan kecil itu. Aku berpapasan dengan Pak Kades di jalan, dan pak Kades bilang sama saya ……kau yang sabar ya Winda. Aku semakin tak mengerti, apa yang sedang terjadi. Di depan rumahku sudah ramai orang. Aku segera masuk kedalam. Betapa kagetnya aku melihat emak terbaring di tengah-tengah orang banyak dengan tubuh pucat dan mata tertutup. Aku menjerit, aku peluk emak ku. Aku menangisinya. Aku seolah tak percaya. Air mataku mengalir tak henti-hentinya, Dadaka terasa sesak. Aku sungguh kecewa dengan diri ku, mengapa aku sekolah tadi, seandainya aku tidak berangkat sekolah mungkin aku bisa melihat emak terakhir kalinya. Aku menyesali diriku, aku kecewa dengan kakak tiriku. Mulai saat itu aku begitu benci kepada kakak tiriku. Aku memandikan emak sambil menangis. Aku menyesal sekali, kenapa aku sekolah tadi..pikirku dengan penuh penyesalan. Ketika orang memasukkan emak keliang kubur, rasanya aku tak rela melihat jenazah emak dimasukkan. Malamnya Uwak ku dari Bengkulu menelpon Bibikku, Bibikku bicara kepadaku bahwa aku akan di sekolahkan di Bengkulu dan tinggal di rumah Pak Yohanes. Winda besok kau harus siap-siap untuk besok pagi. Karena besok kau akan ke Bengkulu dan sekolah di sana, nanti bibik antar kamu. Kamu harus baik-baik di rumah orang, katanya. Aku hanya diam saja. Pagi harinya aku dan bibikku berangkat ke Bengkulu dengan menaikki bus Wanoja. Malam, pukul 20:00, aku dan bibikku sampai di Bengkulu. Kami menginap di rumah Uwakku. Pagi-pagi aku sudah bangun dan duduk depan rumah. Aku teringat akan emak. Hey kenapa melamun? tanya Uwakku. Aku takut Wak, kalau nanti aku nggak bisa jadi orang disini. jawabku sambil menyimpan kesedihanku. Aku tegar-tegarkan diri ku ini di depan Uwakku. Kau harus yakin dan jangan nakal. Kamu kan cewek.Iya Wak jawabku. Pukul 12:00 siang, aku di jemput oleh mobil yang akan membawa ku ke rumah Pak Yohanes. Sesampainya disana, aku melihat seorang Ibu  sedang menunggu kedatangan kami. Oh……, ini ya yang namanya Winda? tanyanya. Iya Bu jawabku. Kemudian datang seorang Bapak menemui kami ,Oh……..,sudah datang katanya??? Iya Dang, ini yang namanya Winda, Winda kasih salam dulu kata Uwakku. Aku menyalami Bapak itu. Ini Dang, kami dari keluarga Ayuk Neng mau nitip Winda. Kalau dia bisa jadi orang di sini nantinya. Kami di dusun tidak mampu menyekolahkannya.Kasian kalau dia tidak sekolah lagi kata bibikku sambil menangis. Iya….iya… akan kami sekolahkan dia, sekalian dia bisa bantu-bantu Ibu disini. Winda!! ini Ibu baru mu dan saya Bapak barumu. Anggaplah kami orang tua mu katanya. Aku hanya senyum-senyum saja.Tak lama kemudian Bibik dan Uwakku pulang. Dan mulai saat itu aku tinggal di rumah Pak Yohanes. Aku di sekolahkan di Yayasan Pelita Kasih. Hari pertama aku masuk sekolah baru aku begitu takut dan gugup ketika baru sampai di sekolah baruku. Saat itu aku merasa takut kalau tidak ada siswa/siswi yang mau jadi temanku. Ternyata dugaanku salah, teman-teman baruku begitu baik padaku.

Di sekolah baruku ini, semakin lama kelakuanku  semakin nakal. Banyak pelanggaran-pelanggaran tata tertib sekolah yang sudah saya lakukan.Teman-temanku saja sudah bosan melihat kelakuan nakal ku. Sampai-sampai Ibu asuhku meminta Ibu Rose menjadi Ibu Rohani ku untuk membimbingku. Tapi aku tetap saja tidak bisa berubah. Masalah selalu ada dalam hidupku.  Dan akupun dicap sebagai anak nakal. Guru-guru ku pun sudah capek menasihatiku. Aku sudah termasuk anak bebal kata merek. Tapi walaupun aku nakal, selalu orang-orang tetap ada yang menasihatiku. Suatu hari, aku piket bersama-sama dengan Santi temanku. Santi datang telat. Aku begitu sensitif banget saat itu karena banyak masalah. Aku lampiaskan semua masalah ku kepada Santi. Sesampainya Santi di sekolah aku langsung marah-marah dan akhirnya terjadi perkelahian antara aku dan Santi. Masalah hari itu pun di selesaikan dengan cara saling memaafkan. Tetapi kami masih saja tak tegur sapa dan akhirnya masalah itu pun terjadi lagi. Santi meminta petanggung jawaban atas cidera yang terjadi pada dirinya karena kelakuan kasarku. Aku tidak terima. Perkelahian terjadi/terulang lagi. Aku tidak terima karena aku menganggap masalah sudah selesai, tetapi masih diungkit lagi. Keesokkan harinya, seperti biasa pada jam pertama aku di suruh salah seorang guru untuk menghadap Ibu Butar-butar. Aku tidak mau. Aku langsung pulang. Guru itu melapor ke Ibu Butar-butar. Kemudian dengan perasaan marah Ibu Butar-butar langsung menelepon Ibu asuhku. Akhirnya orang tua asuhku datang kesekolah. Aku hanya diam dan menyesali semua perbuatanku selama ini. Ibu Butar-butar memanggil dan menasehatiku untuk berubah dan aku membuat surat perjanjian untuk tidak akan mengulangi semua kesalahanku. Santi pun juga begitu, dan akhirnya aku dan Santi berdamai. Aku baru sadar bahwa mereka yang sudah ku buat kesal, ternyata mengasihi ku. Dan kini aku bisa merasakan kasih sayang dari orang tua, guru-guru, dan teman-temanku. Terimah kasih semuanya untuk kasih sayang yang kalian berikan kepadaku selama ini. Kini aku sadar dan aku akan selalu berusaha untuk berubah menjadi anak yang baik. Ini janjiku kepada guru-guruku dan diriku sendiri serta kepada Tuhan.

Sejak saat itu  aku mulai mengalami perubahan dalam kehidupan sebagai seorang anak perempuan. Dan selalu berusaha untuk menjadi wanita yang baik dan disiplin. Kata Ibu Butar-Butar kepadaku bahwa dimana pun kita berada kalau kita jujur, baik dan disiplin pasti orang akan akan membutuhkan kita dan senang kepada kita. Malam harinya aku berdoa meminta pengampunan dosa atas segala kenakalanku yang sudah aku lakukan dan orang-orang yang sudah aku sakiti. Kiranya kasih selalu ada di antara kami. Aku bedoa juga untuk keluaraga ku yang ada di Lebong. Maafkan aku sudah membuat kalian kecewa karena sifat bebalku. Aku berjanji kalau nanti aku sudah menjadi orang berhasil, aku tak akan melupakan kalian. Terimah kasih untuk semuanya. Esok harinya aku datang ke sekolah dengan suka cita surgawi. Aku meminta maaf kepada Guru-guru yang sudah aku sakiti. Ternyata Guru-guru sudah memaafkan aku, sebelum aku meminta maaf. Terima kasih Guruku atas semua yang terbaik engkau berikan padaku selama ini. Aku tak akan menyia-nyiakan semua waktu ku lagi dan tolong bimbing lah aku, supaya aku bisa menjadi orang yang bisa berguna bagi semua orang.

Sekian……

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: