LEADERSHIP

 

MAKALAH

PENGARUH VISI, INTEGRITAS DAN KEPRIBADIAN PEMIMPIN

TERHADAP KEBERHASILAN PELAYANAN
 

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Keberhasilan pelayanan merupakan harapan dan impian setiap orang dan harapan setiap gereja. Impian merupakan visi. Untuk tercapainya sebuah visi maka diperlukan sebuah aksi. Visi dapat diartikan pandangan jauh kedepan. Dan untuk melangkah dalam visi tersebut, sebuah komitmen amat dibutuhkan. Komitmen ini disebut misi. Namun ketika dalam pencapaiannya muncul masalah, dibuatlah serangkaian tindakan yang spesifik untuk menyelesaikan misi itu. Tindakan inilah yang disebut tujuan. Oleh karena itu, seorang pemimpin yang tidak memiliki tujuan sama seperti sebuah kapal yang tak bernakhoda.

Sesungguhnya, kebahagiaan ditemukan didalam usaha untuk mencapai tujuan dan bukan pada saat kita duduk-duduk menikmati hasil yang telah dicapai. Kebahagiaan ditemukan ketika kita mecanangkan tujuan lain dan secara antusias mengarah pada tujuan tersebut dengan semangat juang dan keinginan yang sebelumnya pernah dialami.

Kebahagian pada akhirnya ditemukan oleh mereka yang dengan gembira menentukan tujuan-tujuan baru, mereka yang senantiasa berusaha mencapai tujuaanya dengan baik

Sebuah visi tidak akan terwujud bila tujuan suatu program tidak terencana dan dilaksanakan dengan benar. Sebuah visi akan tetap sama dalam jangka waktu yang lama, sedangkan sebuah misi akan menyesuaikan dengan visi. Namun, suatu tujuan harus ditinjau secara berkala agar seorang pemimpin dapat menyesuaikannya dengan situasi yang terus berubah.

Kepemimpinan adalah perihal memotivasi orang untuk menjalankan dan mencapai misi. Dalam usaha mencapai tujuan ini, persatuan, kepercayaan, dan harga diri akan berkembang. Seorang pemimpin yang baik membantu berkembangnya kualitas-kualitas ini, namun kegagalan membangun integritas akan meracuni semua kesatuan yang ada, menghancurkan kepercayaan antarsesama, dan mematahkan persatuan organisasi.

Pemimpin rohani merupakan barometer dalam keberhasilan pelayanan. Seorang pemimpin rohani harus memiliki integritas oleh karena integritas dalam pelayanan gereja merupakan hal yang mutlak bagi setiap pemimpin gereja.

Keberhasilan seorang pemimpin sangat ditentukan oleh satu hal yakni integritas. Integritas merupakan kualitas utama yang diperlukan didalam sebuah pelayanan. Sebab tanpa integritas tidak akan bisa melayani dengan sungguh-sungguh. Karena integritas yang rusak maka pelayanan seorang pemimpin akan menjadi hancur.

 PEMBAHASAN

2.Uraian Teoritis dan Analisa

2.1. Pengertian Visi

Istilah Visi  berasal dari kata Vision (Bahasa Inggris) yang berakar dari kata visoum (Middle English), dan vision (Old France) yang bersumber dari istilah Latin visio, visus, videre, yang arti dasarnya ialah “to see atau melihat.” Arti selengkapnya dari vision ini adalah “tindakan atau kekuatan melihat dengan mata; atau kemampuan intuisi melihat.”

Visi dapat juga berarti “kemampuan melihat lebih dari keadaan normal, yaitu suatu kemampuan mental untuk mengimajinasi; dan kemampuan untuk melihat serta memahami sesuatu yang tidak terlihat oleh orang kebanyakan, dsb.” Visi seperti yang diterangkan di atas menjelaskan tentang kekuatan diri untuk melihat karena visi berarti melihat.

Menurut Andy Stanley menyatakan bahwa: Visions are born in the soul of a man or woman who is consumed with the tension between what is and what could be. Andyone who is emotionally involved-frustrated, brokenhearted, maybe even angry-about the way thing s are in light of the way they believe things could be, is a candidate for a vision. Visions from in the heart of those who are dissatisfied with the status quo.[1]

Selanjutnya menurut Andy Stanley menyatakan bahwa:  vision often begins with the inability to accept things the way they are. Over time that dissatisfaction matures into a clear picture of what could be. But vision is more than that.[2]

Menurut Zulian Yamit visi merupakan arah kemana organisasi harus menuju, untuk mewujudkan visi tersebut semua level manajemen harus memiliki komitmen dan ketulusan yang besar terhadap kepuasan pelanggan[3]

Visi adalah mental image dari keadaan yang memungkinkan dan diinginkan pada masa mendatang oleh organisasi yang bersangkutan.[4]

Visi adalah mimpi dan sebagai mimpi maka dapat dikatakan sebagai sesuatu yang masih abstrak. Untuk dapat tercapainya suatu visi maka visi tersebut harus dibuat tertulis dalam bentuk pernyataan. Pernyataan visi akan menjawab pertanyaan:  where are we going?. Hal lain dari pernyataan visi adalah mendefenisikan pandangan jangka panjang dari arah organisasi.

Menurut Masyhudzulhak bahwa visi memiliki dimensi antara lain:

  1. Foresight-bagaimana visi sesuai dengan perubahan zaman dan lingkungan; dengan cara memprediksi masa depan
  2. Hindsight-dapat meninjau kembali dan menjamin bahwa visi tidak merusak kebiasaan yang baik dan budaya positif.
  3. Depth perception-mengarahkan dan memberikan visi yang detil dan mempunyai perspektif.
  4. Peripheral vision-mengantisipasi dan mencerminkan respon yang memungkinkan dari seluruh stakeholder terhadap arah yang telah diambil

Visi berhubungan dengan masa depan. Visi mempunyai peranan penting bagi organisasi, tidak hanya pada fase awal sebuah organisasi tetapi selama life cycle time dari organisasi tersebut. Visi adalah sebuah tanda yang menunjukkan jalan pada semua orang yang ingin mengetahui tujuan dari suatu organisasi.

Pernyataan visi merupakan dokumen yang dipersiapkan secara teliti yang mengandung sasaran dan nilai-nilai perusahaan anda. Ia merupakan langkah pertama yang kritis untuk mewujudkan visi bagi setiap anggota perusahaan.[5]

Pernyataan visi harus mempunyai tiga komponen antara lain:[6]

  1. Pernyataan Misi merupakan pernyataan sasaran secara tertulis, yang disusun untuk mengilhami karyawan agar mempunyai komitmen terhadap visi perusahaan.
  2. Daftar Kata-Kata menentukan kata-kata kunci dan ungkapan dalam pernyataan Misi; ini mencegah timbulknya penafsiran yang berbeda terhadap misi.
  3. Asas Pedoman, yang merupakan nilai-nilai yang penting sekali yang mempedomani hubungan karyawan dengan pelanggan dan antara sesame mereka

Setelah seorang pemimpin menerima dan memiliki visi, tantangan berikutnya adalah menyampaikannya kepada orang lain. Apa gunanya visi jika seorang pemimpin tidak membantu yang lain melihatnya? Tetapi bagaimana caranya? Bagaimana seorang pemimpin dapat menyampaikan visi dengan sebaik mungkin? Dengan mewujudkannya. Dengan menjadikannya nyata[7].

Untuk menjadikan visi menjadi nyata haruslah lewat pernyataan secara tertulis. Pernyataan visi secara tertulis memiliki beberapa syarat antara lain:[8]

  1. Meletakkan standar mutu yang tinggi
  2. Merefleksikan idealism yang tinggi
  3. Bernuansa filosofis
  4. Menginspirasi komitmen
  5. Proaktif dan positif
  6. Dapat dikomunikasikand dengan jelas, dan
  7. Mengintegrasikan kualitas yang khas dan kompetensi dari organisasi.

Visi merupakan suatu pernyataan organisasi yang sangat penting, adanya visi memberikan marwah bagi suatu organisasi, didalam visi ada harapan dan cita-cita yang hendak dicapai suatu organisasi. Maka untuk itu untuk mencapai sebuah visi maka sangat diperlukan suatu aksi.

2.2. Misi

Setelah Visi dinyatakan maka untuk mewujudkannya diperlukan  sebuah aksi dalam bentuk misi. Misi  adalah implementasi dan kehendak visi, dengan misi organiasi tercermin bahwa organisasi tersebut terlihat jelas tujuannya.

Misi memiliki keterkaitan dengan strategi. Misi sebagai perwujudan dari visi  membutuhkan strategi untuk mencapai tujuan dan sasaran yang di inginkan. Tujuan dapat diartikan sebagai gambaran masa mendatang tentang kegiatan yang akan dilakukan.

Pernyataan misi menjawab empat pertanyaan yang mengandung alasan mengapa sebuah perusahaan ada:[9]

  1. siapa kita?
  2. Apa yang  kita lakukan?
  3. Untuk siapa kita melakukannya?
  4. Mengapa kita melakukannya?

Ada beberapa fungsi dari pernyataan Misi antara lain:[10]

  1. Ia menetapkan sasaran perusahaan anda
  2. Untuk mengkoordinasikan tindakan dan usaha
  3. Menimbulkan kegairanan dan menambah daya kerja.
  4. Menciptakan masa depan bagi perusahaan

2.3. Pengertian Integritas

Kata Integritas seringkali digunakan sebagai landasan/acuan untuk melahirkan sebuah petuah atau pepatah dari manusia/orang-orang yang sudah dianggap sempurna baik secara mental maupun spiritual, karena itu kata Integritas sudah melekat pada pribadi orang-orang yang arif dan bijaksana yang dalam kehidupan kesehariannya mampu menjadi sosok manusia anutan dan sebagai panutan, atau sebagai tuntunan, bukan tontonan.

Kata integritas berasal dari kata sifat Latin integer (utuh, lengkap) Dalam konteks ini, integritas adalah rasa batin keutuhan yang berasal dari kualitas seperti kejujuran dan konsistensi karakter.. Dengan demikian, seseorang dapat menghakimi bahwa orang lain memiliki integritas sejauh bahwa mereka bertindak sesuai dengan, nilai dan prinsip keyakinan mereka mengklaim memegang.[11]

Secara definisi kata integritas berasal dari bahasa Inggris yakni integrity, yang berasal dari akar kata integer yang mana artinya menyeluruh, lengkap atau segalanya. Ini adalah bentuk ketaatan secara keagamaan terhadap kode moral, nilai dan kelakuan. Kalau kita peragakan , maka integritas ini melebihi karakter seseorang, aksi yang dapat dipercaya (trustworthy action) dan komitmen yang bertanggung jawab (responsible commitment). Kalau boleh ditentukan, maka integritas itu adalah standard terhadap anti suap (incrorruptibility) menolak melakukan kesalahan terhadap kebenaran, bertanggung-jawab atau janji (pledge)[12]

Integritas adalah jati diri. Integritas adalah cara kita memandang atau menilai diri kita sendiri. Siapakah saya menurut diri saya sendiri.[13]

Integritas inilah yang membuat tiap – tiap orang berbeda. Masing – masing mempunyai penilaian sendiri mengenai diri mereka. Ada yang menganggap dirinya baik, ada juga yang menganggap bahwa dirinya benar. Tetapi tidak ada yang menganggap bahwa dirinya jahat, kejam, penipu, sadis, atau raja tega. Yang ada adalah orang lain yang memandang mereka jahat, kejam, penipu, sadis dan raja tega.

Integritas adalah nilai – nilai yang kita percayai, kita yakini, kita perjuangan, kita pegang. Dan teman – teman kita mengenal kita berdasarkan integritas ini. Semakin kuat integritas kita, semakin besar kepercayaan mereka kepada kita. Dan kepercayaan adalah syarat untuk hidup di dunia ini.

Integritas tidak muncul dalam sehari. Integritas dibentuk oleh waktu, dan dimulai waktu kita mengenal benar dan salah.

Benyamin F. Intan menjelaskan bahwa integritas Kristen dapat dilihat dari beberapa sudut argumentasi antara lain: argumentasi ontologis, integritas Kristen dilandasi oleh perasaan takut karena mengasihi dan keinginan untuk menyenangkan Tuhan, bukan perasaan takut pada hukuman Tuhan, karena orang Kristen telah mengalami pengampunan dosa. Kedua, argumentasi epistemologis, yakni merupakan respon kepada Allah secara positif dengan hidup tidak bercela (pure in heart), bukan dengan mereka-reka yang jahat, baik secara sadar maupun tidak. Ketiga, argumen teologis-etis, akuntabilitas integritas orang Kristen adalah Tuhan Allah dan firman- Nya, serta dunia yang akan datang. Ketiganya ini tidak bisa ditipu. Jadi, akuntabilitas integritas tidak hanya disandarkan pada pengujian publik, hukum, teknologi, dan waktu. Singkatnya, Intan menyimpulkan, integritas artinya menjalankan panggilan Tuhan dengan tidak bersembunyi, transparan, tidak bercela, artinya hatinya tidak terbagi, tidak mendua, betul-betul ditujukan hanya kepada Tuhan. Karena itu hidup berintegritas adalah sebuah proses, suatu komitmen yang hidup di mana Allah berdiri sebagai saksi. [14]

Kehidupan berintegritas bagi orang Kristen menurut Intan adalah keharusan karena Allah adalah pribadi yang berintegritas. Manusia sebagai imag e of God harus menyatakan sifat-sifat Allah, yakni hidup yang berintegritas. Dosa memang telah menghancurkan integritas manusia, namun dalam anugerah Allah ada kuasa penebusan yang menyucikan manusia dan memberikan hidup baru. Sebagaimana tertulis dalam Efesus 2:10, “Karena kita ini buatan Allah (common grace), diciptakan dalam Kristus (saving grace), untuk melakukan perbuatan baik (ministerial grace).” Inilah integritas Kristen[15]. Lebih jauh Intan juga memaparkan bahwa integritas Kristen mencakup keseluruhan aspek hidup, bukan hanyap ada wilayah tertentu (primary territory). Misalnya seorang dosen dinilai berintegritas dari segi akademis karena tidak pernah melakukan plagiat, padahal ia ketahuan berselingkuh dengan mahasiswanya. Menurut padangan Kristen, dosen tersebut belum layak disebut berintegritas. Tuntutan menjalankan integritas Kristen tentu saja bukan tanpa tantangan. Semua manusia tidak mungkin tidak berbuat dosa, dan Tuhan mengizinkan manusia bisa jatuh supaya kemudian dalam pemeliharaan Tuhan hidup bertumbuh. Seperti Markus yang pernah diizinkan Tuhan jatuh dengan meninggalkan pelayanan, tetapi kemudian Tuhan membangkitkan dia untuk kembali melayani Tuhan. Ini tidak berarti orang Kristen  boleh berbuat dosa dengan alasan supaya bertumbuh, sebab “Bukankah kita telah mati bagi dosa, bagaimanakah kita masih dapat hidup di dalamnya?” (Roma 5.20b, 6.1-2). Meskipun tuntutan hidup berintegritas adalah tuntutan yang tidak mudah, itu bukanlah mustahil. Tuhan telah memberikan potensi pada orang Kristen untuk dapat memenuhinya. Tuhan telah berjanji memberikan kemampuan untuk mengatasi pencobaan-pencobaan (I Kor. 10:13). Dengan demikian, integritas bukan ilusi.[16]

2.3. Kepribadian Pemimpin

Kepribadian adalah keseluruhan cara di mana seorang individu bereaksi dan berinteraksi dengan individu lain. Kepribadian paling sering dideskripsikan dalam istilah sifat yang bisa diukur yang ditunjukkan oleh seseorang[17]

  1. Kepribadian menurut pengertian sehari-hari
    Disamping itu kepribadian sering diartikan dengan ciri-ciri yang menonjol pada diri individu, seperti kepada orang yang pemalu dikenakan atribut “berkepribadian pemalu”. Kepada orang supel diberikan atribut “berkepribadian supel” dan kepada orang yang plin-plan, pengecut, dan semacamnya diberikan atribut “tidak punya kepribadian”.[18]
  2. Kepribadian menurut psikologi [19]
    Berdasarkan penjelasan Gordon Allport tersebut kita dapat melihat bahwa kepribadian sebagai suatu organisasi (berbagai aspek psikis dan fisik) yang merupakan suatu struktur dan sekaligus proses. Jadi, kepribadian merupakan sesuatu yang dapat berubah. Secara eksplisit Allport menyebutkan, kepribadian secara teratur tumbuh dan mengalami perubahan.  Menurut Gordon W. Allport mendefinisikan kepribadian adalah suatu organisasi yang dinamis dari sistem psiko-fisik indvidu yang menentukan tingkah laku dan pemikiran indvidu secara khas. Terjadinya Interaksi psiko-fisik mengarahkan tingkah laku manusia. Maksud dinamis pada pengertian tersebut adalah perilaku yang mungkin saja berubah-ubah melalui proses pembelajaran atau melalui pengalaman-pengalaman, reward, punishment, pendidikan, dan sebagainya.

Kualitas kepribadian ( Karakter ) sangatlah mempengaruhi kualitas kepemimpinan. Kualitas kepribadian saat ini sangat tidak diperhatikan bahkan tersingkirkan. Seorang pemimpin memiliki hati pelayan dimana itu ditunjukan dalam sebuah pengorbanannya yang tidak mementingkan dirinya sendiri.

Seseorang disebut Pemimpin apabila dia memiliki pengikut dan yang meneladaninya dalam kehidupan mereka.  Arti pemimpin adalah seorang pribadi yang memiliki kecakapan dan kelebihan, khususnya kecakapan/ kelebihan di satu bidang sehingga dia mampu mempengaruhi orang-orang lain untuk bersama-sama melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi pencapaian satu atau beberapa tujuan.[20]

IMPLIKASI / RELEVANSI

1.    Pengaruh Visi terhadap keberhasilan pelayanan

 Peran visi dan misi dalam suatu organisasi baik itu bisnis maupun pemerintahan dan pelayanan gerejawi sangat menentukan dalam suatu upaya mencapai keberhasilan,

Visi merupakan gambaran bagi masa depan. Dalam pelayanan visi merupakan harapan atau cita-cita yang ingin dicapai dalam sebuah pelayanan.

Visi dapat melihat lebih dari apa yang telah dicapai di masa lalu sampai mencapai apa yang Allah inginkan di masa depan. Sebagai pemimpin, keinginan Allah harus menjadi keinginan saya. Visi dapat melihat lebih dari keterbatasan dan frustrasi atas situasi saat ini dan melihat kemungkinan apa saja yang ada bersama Allah. Seorang yang mempunyai visi memiliki arah dan tujuan yang jelas dari Allah, ditambah dengan komitmen untuk menyelesaikan apa yang ingin dicapai.

Untuk mencapai sebuah keberhasilan sangat diperlukan visi yang jelas. Sebab dengan visi akan mengarahkan seorang pemimpin untuk mendefenisikan pandangan jangka panjang dari arah pelayanan yang ingin dicapai.

Tujuan visi adalah untuk menciptakan masa depan. Masa depan bukan sesuatu yang akan terjadi dengan sendirinya, tetapi merupakan realitas yang diciptakan oleh orang-orang yang cukup kuat untuk mampu menguasai lingkungan mereka dengan baik. Masa depan adalah milik Allah dan miliki orang-orang yang melalui Dia terdorong untuk membentuknya. Yang dapat menjadikan bayangan masa depan menjadi kenyataan, adalah kuasa Allah yang bekerja melalui orang-orang yang dipimpin oleh orang yang memiliki visi

Untuk mencapai keberhasilan dari pada sebuah visi maka diperlukan Misi. Misi merupakan perwujudan atau implementasi dari pada visi. Dengan misi pelayanan yang jelas maka tercermin bahwa pelayanan tersebut terlihat jelas tujuannya.  Tujuan dapat diartikan sebagai gambaran keadaan masa mendatang tentang kegiatan pelayanan yang dapat di wujudkan.  Tujuan merupakan factor penting yang harus ada dalam sebuah pelayanan. Agar efektif, seorang pemimpin harus menegaskan fokus misinya secara berkala melalui penetapan tujuan yang efektif. Semakin jelas tujuan yang dimiliki, semakin tajam fokusnya, demikian sebaliknya. Penetapan tujuan yang efektif menjadikan visi semakin terfokus karena menjelaskan langkah-langkah yang dapat diambil untuk mencapai visi tersebut.

Menurut Stephen R Covey bahwa pernyataan misi juga vital untuk keberhasilan organisasi. Agar efektif maka pernyataan misi itu harus berasal dari dalam perut organisasi tersebut. Semua orang berpartisipasi dengan cara berarti-bukan hanya para perencana strategi puncak, tetapi setiap orang.[21]

Selanjutnya Menurut Rick Warrent menjelaskan bahwa tidak ada yang lebih penting dari pada tujuan. Yang mula-mula harus ditanya oleh setiap gereja adalah “apakah tujuan keberadaan kita?” sebelum anda mengetahui tujuan keberadaan gereja anda, anda tidak mempunyai dasar, motivasi dan arah bagi pelayanan. Apabila anda sedang menolong memulai sebuah gereja baru, tugas pertama anda adalah mendefenisikan tujuan anda.[22]

Samuel H. Tirtamiharja menyatakan bahwa visi sangat dibutuhkan oleh karena visi akan mengarahkan kita untuk mencapai tujuan. Kalau kita tidak mempunyai tujuan maka kita tidak akan sampai dimanapun. Visi akan memberi petunjuk, mendorong kita untuk mencapai tujuan.[23]

Selanjutnya Samuel H. Tirtamiharja menyatakan bahwa visi adalah seperti peta jalan dalam pikiran kita atau dikenaljuga dengan sebutan mental mapping.[24] Orang yang sekedar jalan dan tidak membuat pemetaan sebelum melakukan perjalanannya, tidak akan cepat sampai ketujuannya, atau akhirnya sampai ke tujuannya namum terlambat dibandingkan rekan-rekannya.[25]

Dari penjelasan tersebut diatas maka jelas bahwa visi merupakan factor utama dan penting didalam keberhasilan pelayanan. Pelayanan tanpa visi yang jelas ibarat pejalan kaki yang tidak tahu arah dan tujuannya. Dengan visi yang jelas maka dapat kita melihat arah dan tujuan pelayanan dengan baik dan jelas. Visi akan mendorong kita untuk mencapai pelayanan yang berhasil.

2.  Pengaruh Integritas terhadap keberhasilan pelayanan
Integritas adalah sebuah konsep konsistensi tindakan, nilai-nilai, metode, langkah-langkah, prinsip, harapan, dan hasil. Dalam etika, integritas dianggap sebagai kejujuran dan kebenaran yang merupakan kata kerja atau akurasi dari tindakan seseorang. Integritas dapat dianggap sebagai kebalikan dari kemunafikan,  dalam yang menganggap konsistensi internal sebagai suatu kebajikan, dan menyarankan bahwa pihak-pihak yang memegang nilai-nilai yang tampaknya bertentangan harus setuju untuk perbedaan atau mengubah keyakinan mereka.

Dalam melaksanakan pekerjaan baik itu pekerjaan di dunia sekuler maupun pekerjaan atau pelayanan gerejawi sangat diperlukan orang-orang yang berintegritas. Sebab hanya orang-orang yang berintegritaslah yang dapat menjalankan amanah dengan baik.

Ada beberapa alasan mengapa integritas merupakan hal yang sangat penting dalam sebuah pelayanan antara lain:

  1. Tuhan menginginkan itu (Kej 17 : 1 ; 1 Pet 5 : 14 )
  2. Hal itu merefleksikan siapa saya (Kej 20 : 5 – 6)
  3. Kita membutuhkannya (Ams 10 : 9 ; Ams 20 : 7)
  4. Orang lain juga membutuhkannya (1 Raja 9 : 5 ; Fil 2 14 – 16 ; 1 Tim 4 : 12)
  5. Kualitas yang Allah cari di dalam diri seorang pemimpin (1 Pet 1:16)

Berdasarkan ayat-ayat Firman Tuhan tersebut diatas maka sangat jelas bahwa integritas merupakan factor penentu dalam keberhasilan pelayanan. Meskipun seseorang memiliki charisma, memiliki visi yang jelas namun jika tidak memiliki integritas maka tidak akan mampu memberikan pengaruh positif kepada orang lain.

3. Pengaruh Kepribadian terhadap keberhasilan pelayanan

Berbicara kepribadian tidak terlepas dari sifat dasarnya yakni ada kelemahan dan ada kelebihan. Prinsip pertama dan utama dalam kepemimpinan adalah kepercayaan. Artinya, seorang pemimpin harus bisa dipercaya dan bisa mempercayai orang lain.

Kepemimpinan dan kepribadian bukanlah aspek yang terpisah dalam kehidupan seseorang. Seorang pemimpin yang taat asas adalah mereka yang mampu menciptakan kekuatan dalam kehidupan kepribadiannya sekaligus mampu menciptakan kekuatan dalam kepemimpinannya. Seorang pemimpin akan menyesuaikan irama dan langkahnya dengan semua orang yang bekerjasama dengannya.

Kepemimpinan yang efektif sangat dipengaruhi oleh kepribadian pemimpin. Setiap pemimpin perlu memiliki aspek-aspek kepribadian yang dapat menunjang usahanya dalam mewujudkan hubungan manusia yang efektif dengan anggota organisasinya. Kesuksesan atau kegagalan suatu organisasi ditentukan oleh banyak hal, yang salah satunya adalah kepemimpinan yang berjalan dalam organisasi tersebut. Pemimpin yang sukses adalah apabila pemimpin tersebut mampu menjadi pencipta dan pendorong bagi bawahannya dengan menciptakan suasana dan budaya kerja yang dapat memacu pertumbuhan dan perkembangan kinerja karyawannya. Pemimpin tersebut memiliki kemampuan untuk memberikan pengaruh positif bagi karyawannya untuk melakukan pekerjaan sesuai dengan yang diarahkan dalam rangka mencapai tujuan yang ditetapkan.

Kepemimpinan yang berhasil, bergantung pada kepemilikan kualitas yang tepat di saat yang tepat.[26]

Kualitas utama yang harus ada pada diri seorang pemimpin adalah integritas. Integritas adalah hal yang sangat langka jaman sekarang ini. Sehingga ia merupakan tema penting yang selalu dibicarakan di media-media televise.

Keberhasilan pelayanan sangat ditentukan oleh kualitas kepribadian seorang pemimpin. Pemimpin yang berintegritas adalah pemimpin yang dapat dipercaya dan diteladani. Dalam konteks pelayanan gereja Kristus merupakan teladan. I Petrus 2:21 menyebutkan bahwa “sebab untuk ituulah kamu dipanggil, karena Kristus pun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya”

Pemimpin yang berintegritas akan mudah memberikan pengaruh kepada orang lain. Oleh karena hanya orang berintegritaslah yang dapat dipercaya oleh orang banyak. Dengan demikian seorang pemimpin yang memiliki visi yang jelas, tujuan yang jelas dan berintegritas merupakan pemimpin yang memiliki ideal didalam mencapai keberhasilan pelayanan.

Kesimpulan

Dari uraian diatas maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

  1. Visi merupakan factor penting dan utama dalam keberhasilan pelayanan.
  2. Integritas merupakan modal dasar dalam keberhasilan pelayanan sebab tidak ada pencapaian visi, misi dan tujuan apabila tidak ada integritas.
  3. Kepribadian merupakan bagian dari pada kepemimpinan. Kepribadian seseorang sangat menentukan keberhasilan visi dan misi serta tujuan yang ditetapkan oleh karena kepribadian merupakan unsur yang terkait didalam kepemimpinan sedangkan kepemimpinan yang berhasil adalah pemimpin yang berhasil mencapai tujuan
  4. Visi, Integritas dan Kepribadian merupakan satu kesatuan yang mempengaruhi keberhasilan pelayanan.

 

DAFTAR PUSTAKA

Andy Standley, 1999, Visioneering, Oregon : Multnomah Publisher

Bob Wall, dkk. 1999, The visionary Leader. Pemimpin Yang bervisi Kuat , Batam: Interaksara.

Kartini Kartono, 1988, Pemimpin dan Kepemimpinan, Jakarta: CV Rajawali

Michael Armstrong, 2003, How To Be Even a Better Maneger, Batam Center:

Bina Rupa Aksara.

Mazyhudzulhak, 2009, Manajemen Stretegis, Bengkulu: Lembaga

Pengembangan Sumber Daya.

Rick Warren, 2006 The  Purpose Driven Church, Gereja Yang di Gerakkan       

                      Oleh Tujuan, Malang: Gandum Mas.

Stephen R.Covey,  1977, The 7 Habits of Higly Effective People, Jakarta: Bina

Rupa Aksara.

Samuel H. Tirtamiharja, 2007, Pemimpin adalah Pemimpi, Jakarta: Yayasan Yaski.

http://www.Indra Setiawan.com  Defenisi Integritas dan Pengertian Integritas,

http://www.sabda.com, Integritas Orang Percaya artikel karangan Saumiman Saud.

http://www.wapanuri.com

Www. wikipedia.com

www.zulian yamit. blog.com.

www.buletinpillar.com


[1] Andy Standley, 1999, Visioneering, (Oregon : Multnomah Publisher), hlm 17

[2] Ibid

[3] www.zulian yamit. Blog.com.

[4] Masyhudzulhak, manajemen strategis, (Bengkulu: lembaga pengembangan sumber daya), hlm 6

[5] Bob Wall, dkk.The visionary Leader. Pemimpin Yang bervisi Kuat (Batam: Interaksara, 1999), hlm 65.

[6] Ibid

[7] Bill Hybels,  Courageous Leadership, Kepemimpinan Yang Berani (Batam: Gospel Press)  hlm. 43

[8] Mazyhudzulhak, Manajemen Stretegis, (Bengkulu: Lembaga Pengembangan Sumber Daya, 2009) hlm 6.

[9]  Bob Wall, dkk.  The visionary Leader. Pemimpin Yang bervisi Kuat (Batam: Interaksara, 1999), hlm 66.

[10] Ibid. hl 66-67

[11] Indra Setiawan.com  Defenisi Integritas dan Pengertian Integritas,

[12] Saumiman Saud,blog.com: Integritas Orang Percaya

[13] wapanuri.com

[14] Benyamin F. Intan, Integritas Kristen ( Artikel diambil dari situs www:bulletin pilar.com)

[15] Ibid

[16] Ibid

[18] ibid

[19] ibid

[20]  Kartini Kartono, Pemimpin dan Kepemimpinan (Jakarta: CV Rajawali, 1988), hlm. 33

[21] Stephen R.Covey,  The 7 Habits of Higly Effective People, (Jakarta: Bina Rupa Aksara, 1977) hlm. 130-131

[22] Rick Warren, The  Purpose Driven Church, Gereja Yang di Gerakkan Oleh Tujuan, (Malang: Gandum Mas, 2006) hlm. 87

[23] Samuel H. Tirtamiharja, Pemimpin adalah Pemimpi (Jakarta: Yayasan Yaski, 2007) hlm. 24

[24] Ibid, Samuel H. Tirtamiharja, hlm. 26

[25] Ibid, Samuel H. Tirtamiharja, hlm 26

[26] Michael Armstrong, How To Be Even a Better Maneger (Batam Center: Bina Rupa Aksara, 2003) hlm 121

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: